Interaksi Sosial dalam Budaya Jawa
Oleh ALFITRI
Departemen Sosiologi FISIP Unand

Sejak Agustus tahun 1990 sampai pertengahan 1992, saya kuliah di Yogya. Lebih kurang dua tahun. Dan ini memberi pengalaman yang berkesan. Berinteraksi dengan masyarakat Yogya membuat saya merasa “diuwongke” atau “diorangkan”.
Budaya Jawa yang mereka emban memang mengajarkan pentingnya harmoni, baik dengan Sang Pencipta, alam, maupun sesama manusia. Karena itu, dalam interaksi sehari-hari mereka sangat menghormati orang lain: apakah itu di pasar, di kampus, di pemukiman atau dimana pun.
Tidak seperti kebanyakan teman lain yang beli motor, saya beli sepeda untuk kendaraan pribadi selama kuliah di Yogya. Kendati cuma dengan sepeda, mobilitas saya cukup tinggi. Selain ke kampus, hampir tiap hari saya ke Malioboro untuk belanja berbagai keperluan atau jalan-jalan. Dan entah kenapa tidak bosan-bosan. Kadang juga nonton ke bioskop 21 di Jalan Solo, yang saat itu ngetop banget. Waktu itu, parkir motor kena seratus rupiah dan sepeda lima puluh rupiah.
Dan yang paling membuat saya kagum adalah tukang parkirnya menerima koin lima puluh rupiah itu dengan sikap takzim. Dia menerima uangnya dengan tangan kanan di mana tangan kirinya memegang siku tangan kanannya.
Beberapa kali kesempatan saya mencari rumah teman. Dan umumnya orang yang saya temui untuk minta tolong menjelaskan arah alamatnya dengan sopan dan sabar. Mereka menunjukkan dengan menggunakan jempol atau ibu jari, bukan dengan telunjuk apalagi dengan puncak hidungnya. Bahkan pernah juga, saya langsung didampingi/diantarkan ke alamat yang dituju.
Di kampus, sebagian besar pegawai, tua maupun muda menyapa saya dan teman-teman dengan panggilan Mas. Bahkan sebagian dosen juga demikian. Hubungan keseharian berjalan dengan sikap saling menghormati yang kuat.
Prof. Loekman Soetrisno, salah seorang dosen/pembimbing saya yang di UGM terkenal paling galak pun, sering memanggil saya dengan sapaan “Nak” atau “Son”. Pada suatu kuliah terakhir menjelang liburan semester beliau memanggil saya di kelas, “Son, besok kau pulang libur, jangan lupa bawa rendang yaa..,”
Suatu kali, saya dan teman-teman sekelas diundang khusus makan malam di rumahnya. Kami tidak tahu apakah ini kebiasaan beliau. Yang jelas kami waktu itu merasa beruntung karena dijamu makan malam dengan menu yang luar biasa bagi anak kost sambil diberi motivasi dan nasehat untuk segera menyelesaikan studi.
Menurut Franz Magnis-Suseno dalam buku Etika Jawa (1985), adab sopan santun orang Jawa berakar pada upaya menjaga kerukunan dan harmoni sosial. Sopan santun tidak sekadar aturan lahiriah, tetapi sarana etis untuk menghindari konflik terbuka dan menjaga keseimbangan hubungan antarindividu.
Orang Jawa diajarkan untuk mengendalikan diri, menahan emosi, serta tidak menonjolkan kepentingan pribadi demi ketenteraman bersama. Sikap seperti andhap asor (rendah hati), tepa slira (tenggang rasa), dan empan papan (menempatkan diri sesuai situasi) menjadi inti perilaku sopan, karena melalui sikap itulah seseorang menunjukkan penghormatan kepada orang lain dan tatanan sosial.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam budaya Jawa bersikap sopan berarti mengetahui batas, tidak bersikap kasar, tidak langsung, serta menghindari konfrontasi sosial. Dengan demikian, adab sopan santun bukan sekadar formalitas, melainkan ekspresi etika batin orang Jawa yang mengutamakan ketenangan, keselarasan, dan rasa hormat sebagai landasan kehidupan bersama.
Budaya seperti demikian menurut penulis perlu terus dilestarikan dan diaktualisasikan. Tidak hanya bagi orang Jawa. Tapi juga bagi siapa saja yang menganggap bahwa sopan santun adalah bagian penting dari hubungan sosial yang beradab. (*)

