BREAKING NEWSTANJUNGPINANG

Mengapa Penting Ikut Salat Jenazah?

Opini

Kematian bukanlah akhir, melainkan perpindahan dari satu fase kehidupan menuju fase berikutnya. Karena itu, setiap prosesi yang mengiringinya mulai dari mensalatkan hingga mengantar ke kubur bukan sekadar ritual sosial, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual dan sosial.

Terkadang di kebiasaan warga kita ketika mengunjungi warga yang meninggal dunia duduk, ngobrol. Ada juga yang baca Yasin di dekat jenazah. Tak jarang ada yang ngobrol sambil ketawa bergurau sesama. Lalu pulang tak melaksanakan salat jenazah.

Mereka meninggalkan amalan yang penting yakni fardhu kifayah mensalatkan dan mengantarkan jenazah ke kubur.

Ziarah, lalu mensalatkan dan mengantar jenazah ke kubur adalah bentuk kepedulian terakhir yang diberikan manusia kepada sesamanya, sekaligus momentum kontemplasi bagi yang masih hidup.

Rasulullah Muhammad SAW menempatkan urusan jenazah sebagai bagian dari hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa salah satu hak itu adalah mengikuti jenazahnya. Bahkan, dalam riwayat lain, Nabi menjelaskan tentang besarnya pahala yang diperoleh: siapa yang mensalatkan jenazah akan mendapatkan satu qirath pahala, dan siapa yang mengikuti hingga pemakaman akan memperoleh dua qirath masing-masing sebesar Gunung Uhud. Jika kita hitung hitung. Bayangkan Gunung Uhud tingginya 1077 meter di atas permukaan laut dan membentang 7 Km.

Hadis ini bukan sekadar gambaran hiperbolik. Ia menunjukkan bahwa di balik langkah kaki yang mengantar jenazah, terdapat limpahan ganjaran yang sangat besar. Mengapa demikian? Karena pada momen itu, seorang Muslim hadir dengan niat tulus mendoakan, menguatkan keluarga yang ditinggalkan, dan mengingat kematian sebagai keniscayaan.

Pertama, mensalatkan jenazah adalah bentuk doa kolektif yang sangat mulia. Dalam salat jenazah, tidak ada rukuk dan sujud. Yang ada adalah takbir dan doa. Doa untuk ampunan, rahmat, dan keselamatan almarhum di alam kubur. Di sinilah letak esensinya: kita berdiri bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk saudara yang telah tiada.

Doa orang banyak, apalagi dari mereka yang saleh, diyakini menjadi sebab diringankannya hisab dan azab kubur.

Kedua, mengantar jenazah ke kubur adalah pelajaran paling nyata tentang kefanaan. Setiap langkah menuju pemakaman adalah pengingat bahwa suatu hari kita pun akan diantar dengan cara yang sama. Kesadaran ini melunakkan hati, mematahkan kesombongan, dan menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki amal.

Ketiga, ziarah dan mengantar jenazah memperkuat solidaritas sosial. Keluarga yang berduka tidak hanya membutuhkan ucapan belasungkawa, tetapi juga kehadiran nyata. Kehadiran di rumah duka, di masjid saat salat jenazah, hingga di pemakaman adalah bentuk empati konkret. Di situlah terjalin rasa kebersamaan dan ukhuwah. Masyarakat yang terbiasa saling mengantar jenazah adalah masyarakat yang masih memiliki kepekaan sosial.

Namun di era modern, praktik ini mulai tergerus oleh kesibukan dan individualisme. Tidak sedikit orang yang merasa cukup mengirim pesan singkat atau karangan bunga. Padahal, nilai spiritual dan sosial dari kehadiran fisik tak tergantikan. Mengantar jenazah bukan soal formalitas, tetapi kesediaan meluangkan waktu untuk sesuatu yang sangat sakral.

Lebih jauh lagi, ziarah kubur juga memiliki dimensi pendidikan ruhani. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kepada akhirat. Dengan berdiri di antara pusara, kita menyadari bahwa jabatan, harta, dan popularitas tidak ikut dibawa. Yang tinggal hanyalah amal. Kesadaran ini menata ulang prioritas hidup: dari yang fana menuju yang kekal.

Pahala yang dijanjikan bukan semata-mata imbalan kuantitatif, melainkan simbol besarnya nilai perbuatan itu di sisi Allah. Dua qirath sebesar gunung Uhud menggambarkan bahwa ibadah sosial memiliki kedudukan tinggi. Dalam Islam, kesalehan tidak hanya diukur dari ritual pribadi, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama.

Selain itu, mensalatkan dan mengantar jenazah juga menjadi bentuk penghormatan terakhir. Islam sangat memuliakan manusia, bahkan setelah wafat. Tubuhnya dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan dengan penuh hormat. Mengikuti prosesi ini berarti ikut menjaga kemuliaan tersebut. Di sana ada nilai adab, kasih sayang, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Akhirnya, pentingnya ziarah dan mengantar jenazah tidak hanya terletak pada pahala yang besar, tetapi juga pada transformasi batin yang ditimbulkannya. Ia mendidik hati untuk lembut, menumbuhkan empati, dan mengingatkan pada tujuan akhir kehidupan.

Maka, ketika ada kabar duka, jangan hanya hadir dalam doa dari kejauhan jika kita mampu mendekat. Datanglah, salatkanlah, dan antarkan hingga ke peristirahatan terakhir.

Di sana bukan hanya jenazah yang kita antar, tetapi juga harapan akan rahmat Allah untuknya dan untuk kita semua yang suatu hari akan menyusul. Semoga ketika kita meninggal dunia, banyak orang juga yang menyalatkan, mendoakan dan mengantarkan sampai ke kuburan.***

Robby Patria

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *