BREAKING NEWSTANJUNGPINANG

MUI Tanjungpinang: Judi Online Gerus Ekonomi Keluarga, Ramadan Jadi Momentum Berbenah

Ketua MUI Kota Tanjungpinang, Prihatmy Eko Diantoro.

TANJUNGPINANG, (kepriraya.com) – Maraknya praktik judi online dan pinjaman online ilegal kian mengkhawatirkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungpinang menilai fenomena tersebut bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman serius bagi ketahanan ekonomi dan keharmonisan keluarga.


Ketua MUI Kota Tanjungpinang, Prihatmy Eko Diantoro, menegaskan bahwa perjudian dalam bentuk apa pun tidak membawa manfaat. Sebaliknya, kebiasaan tersebut dinilai menggerus penghasilan masyarakat dan menurunkan semangat kerja.


“Judi itu tidak bermanfaat. Justru bisa mengurangi etos kerja dan memicu persoalan ekonomi baru di tengah masyarakat,” ujar Prihatmy, Rabu (18/2/2026).


Menurutnya, iming-iming keuntungan instan dari judi online sering kali menjebak masyarakat. Alih-alih memperoleh kesejahteraan, banyak yang justru terjerat kerugian berulang, bahkan terpaksa mencari pinjaman untuk menutup kekalahan.


“Nilai ekonomi keluarga bisa turun drastis. Dampaknya bukan hanya pada keuangan, tetapi juga hubungan dalam rumah tangga,” tegasnya.


Prihatmy menilai, praktik judi online dan pinjol ilegal kerap berjalan beriringan. Ketika penghasilan terkuras, sebagian orang mencari jalan pintas melalui pinjaman berbunga tinggi, yang pada akhirnya memperparah beban ekonomi keluarga.


MUI pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola waktu dan penghasilan. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, momentum ini dinilai tepat untuk memperbaiki diri serta mengalihkan aktivitas ke hal-hal yang lebih produktif dan bernilai ibadah.


“Ramadan adalah waktu yang baik untuk berbenah. Gunakan waktu dan rezeki untuk kegiatan yang halal, produktif, dan membawa keberkahan,” imbaunya.


Ia berharap kesadaran kolektif masyarakat semakin tumbuh untuk menjauhi praktik yang merugikan tersebut. Stabilitas ekonomi keluarga, menurutnya, harus dijaga dengan kerja keras, usaha yang halal, dan pengelolaan keuangan yang sehat.


“Mari kita jaga ekonomi keluarga dengan cara-cara yang benar dan sesuai ajaran agama,” tutup Prihatmy. (Fri)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *