Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp17.286 per Dolar AS, Tekanan Global–Domestik Menggulung

JAKARTA, (kepriraya.com)– Nilai tukar rupiah kembali terperosok dan mencatat rekor terendah sepanjang sejarah pada Kamis (23/4/2026). Di tengah gelombang tekanan global dan domestik yang datang bersamaan, rupiah ditutup di level Rp17.286 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp17.315 per dolar AS pada perdagangan intraday.
Pelemahan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa bulan terakhir, dengan penurunan harian sekitar 0,8%. Sejak akhir Februari 2026, rupiah telah terkoreksi lebih dari 3,5% dan menempatkannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Tekanan terhadap rupiah dipicu lonjakan harga energi global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terutama negara importir energi seperti Indonesia.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang terjadi secara simultan, mulai dari risiko konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.
“Jika ketegangan mereda dan harga minyak turun secara konsisten, rupiah berpotensi mengalami pemulihan,” ujarnya.
Bank Indonesia (BI) sendiri menegaskan kesiapannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Rupiah saat ini dinilai berada di bawah nilai fundamental (undervalued), sehingga ruang intervensi kebijakan moneter tetap terbuka, termasuk langkah untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Di kawasan Asia, tekanan juga dialami mata uang lain. Baht Thailand melemah ke level terendah sejak awal April, sementara rupee India menembus angka 94 per dolar AS. Ringgit Malaysia turut tertekan, meski tidak sedalam rupiah.
Berbeda dengan Indonesia, Filipina memilih menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,50% untuk menahan laju inflasi dan menjaga stabilitas mata uangnya.
Sentimen negatif juga merembet ke pasar saham. Bursa Indonesia melemah sekitar 1,5%, seiring tekanan serupa di Singapura dan Thailand. Volatilitas tinggi terlihat di pasar Korea Selatan dan Taiwan, yang sempat mencetak rekor sebelum akhirnya terkoreksi.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian penuh pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama ketidakpastian masih tinggi dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut. (*)

