BREAKING NEWSTANJUNGPINANG

Penyengat Heritage 2026, Menjaga Warisan Melayu dan Menapaki Jejak Lahirnya Bahasa Indonesia

Para pengunjung Penyengat Heritage 2026

TANJUNGPINANG, (kepriraya.com) – Penyengat Heritage 2026 tidak sekadar menjadi sebuah festival budaya, tetapi juga momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, dan identitas bangsa yang tumbuh dari Pulau Penyengat, salah satu pusat peradaban Melayu di Nusantara.


Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan festival ini dirancang sebagai ruang bersama untuk mengajak masyarakat dan wisatawan mengenal lebih dekat akar budaya Melayu yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia.


“Penyengat Heritage bukan hanya perayaan budaya, tetapi ruang bagi kita semua untuk mengenal kembali jati diri bangsa melalui warisan budaya Melayu yang ada di Pulau Penyengat. Melalui konsep Regenerative Lifestyle Tourism, kami ingin menghadirkan pariwisata yang tidak hanya memberikan pengalaman kepada wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, budaya, dan alam,” ujar Hasan. Minggu, (21/6).


Konsep Regenerative Lifestyle Tourism yang diusung dalam festival ini menempatkan pariwisata tidak hanya sebagai aktivitas kunjungan semata, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat lokal, serta perlindungan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, Pulau Penyengat diharapkan mampu berkembang sebagai destinasi wisata berkualitas yang memberikan dampak positif secara berkelanjutan.


Lebih jauh, Hasan menjelaskan bahwa semangat pelestarian yang dibangun melalui Penyengat Heritage 2026 juga menjadi bagian dari langkah besar menuju pembangunan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat. Monumen tersebut direncanakan sebagai simbol penghormatan terhadap peran penting Pulau Penyengat dalam sejarah perkembangan Bahasa Indonesia.


Pulau Penyengat dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai karya sastra dan pemikiran tokoh-tokoh Melayu, termasuk Raja Ali Haji yang melalui karyanya telah memberikan fondasi penting bagi perkembangan Bahasa Indonesia modern.


Pembangunan Tugu Bahasa direncanakan berlangsung dalam kurun waktu dua tahun dan ditargetkan rampung serta diresmikan bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda. Kehadirannya diharapkan menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat bagi generasi mendatang bahwa Pulau Penyengat memiliki peran besar dalam perjalanan bahasa persatuan bangsa.

Bagi Kepulauan Riau, keberadaan Tugu Bahasa nantinya tidak hanya menjadi ikon baru wisata sejarah dan budaya, tetapi juga memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi edukasi yang menghubungkan wisatawan dengan jejak lahirnya identitas kebangsaan Indonesia.


Berakhirnya Penyengat Heritage 2026 bukanlah akhir dari upaya pelestarian budaya. Sebaliknya, festival ini menjadi titik awal perjalanan panjang untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat wisata sejarah, budaya, dan literasi Melayu yang hidup, lestari, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.


Dengan kekayaan sejarah yang dimiliki, Pulau Penyengat terus menegaskan dirinya sebagai penjaga warisan Melayu dan saksi penting lahirnya Bahasa Indonesia, warisan yang akan terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Bud)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *