BREAKING NEWSTANJUNGPINANG

MAN Tanjungpinang Perangi Individualisme, Erizal: Guru Harus Jadi Teladan dan Bangun Team Work

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tanjungpinang, Erizal, saat menghadiri pertemuan rutin bulanan MAN Tanjungpinang di Aula Asrama Putri MAN Tanjungpinang, Jumat (21/8/2026).F -ist

TANJUNGPINANG, (kepriraya.com) — Budaya kebersamaan menjadi perhatian serius Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjungpinang. Sikap individualistis dinilai tidak hanya dapat merenggangkan hubungan antarindividu, tetapi juga berpotensi merusak sistem kerja dan melemahkan nilai-nilai pendidikan.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tanjungpinang, Erizal, saat menghadiri pertemuan rutin bulanan MAN Tanjungpinang di Aula Asrama Putri MAN Tanjungpinang, Jumat (21/8/2026).

Pertemuan yang dihadiri Kepala MAN Tanjungpinang Ulfa Ismiati, jajaran dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut mengangkat tema “Mengikis Sikap Individualis dalam Merefleksikan Nilai Trilogi.”

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Zikra, siswi kelas X E2. Selanjutnya, pertemuan menjadi ruang refleksi bagi keluarga besar MAN Tanjungpinang untuk memperkuat komunikasi, kebersamaan, keteladanan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas pendidikan.

Erizal mengapresiasi MAN Tanjungpinang yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pertemuan rutin bulanan seharusnya tidak sekadar menjadi agenda formal atau administratif, tetapi harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi kinerja sekaligus memperkuat budaya kerja bersama.

“Terima kasih kepada MAN Tanjungpinang yang telah menaja kegiatan ini. Ini kegiatan yang sangat bagus dan bernilai positif,” ujar Erizal.

Individualisme Bisa Merusak Sistem Kerja

Dalam arahannya, Erizal mengingatkan bahwa sikap individualisme yang dibiarkan berkembang dapat membawa dampak serius, baik bagi individu maupun organisasi.

Seseorang yang terbiasa berjalan sendiri, menurutnya, berisiko mengalami kesepian, kerapuhan, stagnasi, bahkan kehilangan keberkahan dalam kehidupan. Di lingkungan kerja, sikap tersebut juga dapat memicu munculnya iri hati, kedengkian, serta menghambat terciptanya suasana kerja yang sehat.

“Orang yang individual sangat berbahaya karena dapat merusak sistem yang sudah ada dan berjalan. Karena itu, team work sangat dibutuhkan,” tegasnya.

Ia menekankan, sebuah lembaga pendidikan tidak mungkin berjalan dengan baik apabila setiap orang hanya memikirkan tugas dan kepentingannya sendiri. Dibutuhkan komunikasi, kepedulian, saling membantu, serta kesediaan untuk bekerja sebagai satu tim.

Erizal juga mengingatkan bahwa dampak individualisme tidak berhenti pada lingkungan kerja. Dalam kehidupan sosial, sikap tidak peduli terhadap lingkungan dapat membuat seseorang mudah diadu domba dan perlahan kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut dinilai dapat mengikis nilai-nilai sosial dan budaya yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Guru Harus Menjadi Teladan

Karena itu, Erizal mendorong para guru dan tenaga kependidikan MAN Tanjungpinang untuk membangun budaya kerja yang saling menguatkan.

Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di lingkungan madrasah hendaknya diselesaikan melalui komunikasi dan kolaborasi, bukan dengan sikap saling menyalahkan atau berjalan sendiri-sendiri.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter peserta didik. Keteladanan guru tidak hanya terlihat dari materi yang disampaikan di ruang kelas, tetapi juga dari cara berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

“Guru harus menjadi teladan. Apa yang kita lakukan akan dilihat dan ditiru oleh peserta didik,” pesan Erizal.

Dalam kesempatan tersebut, Erizal turut mengingatkan kembali Trilogi Ki Hadjar Dewantara sebagai salah satu prinsip penting dalam dunia pendidikan dan kepemimpinan.

Nilai tersebut dinilai relevan untuk diterapkan dalam kehidupan madrasah, terutama dalam membangun kepemimpinan yang memberi contoh, membangun semangat bersama, serta memberikan dorongan kepada seluruh warga madrasah untuk berkembang.

Pertemuan rutin MAN Tanjungpinang itu pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat soliditas seluruh keluarga besar madrasah.

Dengan budaya kerja yang kolaboratif, saling peduli, dan menjadikan keteladanan sebagai bagian dari keseharian, MAN Tanjungpinang diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang semakin harmonis sekaligus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan kepedulian sosial.

F-Ist (Humas Kemenag Tanjungpinang)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *