Menelusuri Semangat Juang Melalui Seni Silat Pulau Paku

Tanjungpinang, kepriraya.com – Di hamparan laut yang tenang di wilayah Kota Tanjungpinang, berdiri sebuah pulau kecil yang menyimpan jejak panjang sejarah perjuangan Melayu. Pulau tersebut dikenal dengan nama Pulau Paku. Meski terlihat sederhana dan sunyi, pulau ini menyimpan kisah historis yang pernah memberi warna penting bagi perjalanan sejarah Tanjungpinang.
Pulau Paku menjadi pusat perhatian dalam acara Pagelaran Seni Silat Nusantara bertajuk “Jejak Perjuangan di Pulau Paku” yang dihelat oleh Dinas Kebudayaan Kepri bersama perguruan silat Kota Tanjungpinang. Event ini tidak hanya menampilkan keahlian para pendekar silat, akan tetapi juga menghidupkan kembali fragmen sejarah Tanjungpinang, Sabtu (23/05/2026).
Kepada bidang adat tradisi dan karya budaya takbenda Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau Harry Prima Putra menjelaskan bahwa perhelatan di pulau paku ini menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi dan sejarah yang mulai terlupakan. Melalui kegiatan budaya ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal warisan leluhur serta menghargai perjuangan para pendahulu.
“Bagi masyarakat Tanjungpinang, Pulau Paku bukan hanya sekadar pulau kecil di tengah lautan. Pulau ini merupakan lambang identitas, sejarah, dan semangat perjuangan Melayu yang terus hidup dari masa ke masa. Dari tempat sederhana inilah, jejak sejarah besar pernah tercipta”, ungkap Harry.
Harry juga mengatakan Pulau Paku terletak di kawasan strategis perairan Hulu Riau, yang pada masa Kesultanan Johor-Riau-Lingga menjadi jalur pelayaran utama. Posisi pulau yang berada di jalur laut menjadikannya benteng pertahanan penting bagi kerajaan Melayu ketika menghadapi serangan kolonial Belanda pada abad ke-18.
Saat ini, suasana Pulau Paku jauh berbeda dibanding masa lalu. Tidak ada lagi suara dentuman meriam ataupun hiruk-pikuk peperangan. Pulau kecil itu kini tampak damai dan tenang. Walaupun demikian, masyarakat sekitar tetap menjaga dan mewariskan cerita tentang keberanian para pejuang Melayu yang pernah mempertahankan wilayah tersebut. Kisah perjuangan itu terus dikenang sebagai simbol persatuan dan semangat juang masyarakat Tanjungpinang.
Sementara itu Dato’ Setia Perdana Pendekar Serigading Yoan S Nugraha, Ketua Umum Lembaga Pelestari Nilai Adat dan Tradisi (PESILAT) Kepulauan Riaul mengatakan bahwa pulau paku tidak banyak diketahui masyarakat, pulau yang tidak begitu luas, tidak hanya timbunan tanah alami, kita bisa berlari dari ujung ke ujung, tetapi banyak hostoris sejarah disini.
“Dibalik tirai sejarah itu masyarakat Tanjungpinang khususnya Provinsi Kepulauan Riau harus mengetahui sejarah Pulau Paku, bukan hanya sekedar timbunan tanah alami, tapi Pulau Paku merupakan sejarah kemenangan Kerajaan Riau pertama melawan armada Belanda pada tahun 1784 dan menjadi indikator utama sejarah lahirnya Kota Tanjungpinang”, ungkap Yoan.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1784 terjadi peperangan besar antara pasukan Kerajaan Riau dan armada Belanda. Dalam pertempuran tersebut, kapal utama Belanda bernama Malaka’s Walvaren berhasil ditenggelamkan di sekitar perairan Pulau Paku oleh pasukan Melayu di bawah pimpinan Sultan Mahmud Riayat Syah bersama Raja Haji Fisabilillah. Kemenangan itu menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memiliki pengaruh besar terhadap lahir dan berkembangnya Kota Tanjungpinang.
Puncak kegiatan dimeriahkan dengan penampilan seni bela diri dari berbagai perguruan silat di Kota Tanjungpinang yang diiringi tabuhan gendang silat khas Melayu. Di hadapan masyarakat yang memenuhi Dermaga Pulau Paku, pertunjukan tersebut seolah membangkitkan kembali nuansa sejarah yang telah lama terdiam.
Para pendekar yang tampil bukan sekadar mempertontonkan rangkaian jurus bela diri. Setiap gerakan dirancang layaknya sebuah kisah perjuangan. Langkah yang tegas dan teknik kuncian melambangkan kewaspadaan serta keberanian, sementara atraksi ketahanan tubuh menggambarkan ketangguhan masyarakat Melayu dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Turut hadir dalam helatan tersebut Satpolairud Tanjungpinang, Polresta Tanjungpinang, Polsek Tanjungpinang Barat, Dinas Kebudayaan Kepri, para pendekar silat kota Tanjungpinang.
Saat senja perlahan menyelimuti perairan Hulu Riau, Pulau Paku masih tegak dalam ketenangannya, seolah menjadi penjaga bisu yang setia merawat jejak sejarah agar tetap hidup di ingatan generasi masa depan.
Ketika cahaya senja perlahan memudar di Pulau Paku, para pendekar mulai meninggalkan kawasan tersebut menuju Gedung Adat Melayu (LAM) Kepri. Di tempat itulah mereka bersiap menyambut pagelaran malam, dengan menampilkan beragam atraksi dari berbagai perguruan silat yang ada di Kota Tanjungpinang.
Dewan pertimbangan Ikatan Pencat Seluruh Indonesia (IPSI) Kepulauan Riau Dato’ H.Huzrin Hood mengatakan dalam sambutannya bahwa pulau paku memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Kota Tanjungpinang. Pulau kecil yang pernah menjadi saksi perjuangan kerajaan Melayu melawan kolonialisme ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi simbol keberanian, identitas, dan warisan budaya Melayu yang patut dijaga.
“Oleh karena itu, ke depan Pulau Paku layak dijadikan sebagai cagar budaya Kepulauan Riau agar keberadaannya tetap terlindungi dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman”, ungkap Huzrin.
Penetapan Pulau Paku sebagai cagar budaya dapat menjadi langkah penting dalam menjaga situs sejarah perjuangan Melayu di wilayah Hulu Riau. Dengan status tersebut, nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya dapat lebih diperhatikan, mulai dari pelestarian kawasan, penelitian sejarah, hingga pengembangan edukasi budaya bagi generasi muda. Pulau Paku bukan sekadar gugusan daratan kecil di tengah laut, melainkan bagian dari perjalanan panjang sejarah terbentuknya Tanjungpinang dan perlawanan masyarakat Melayu pada masa lampau.
Selain itu, keberadaan Pulau Paku juga berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menghadirkan wisata edukatif yang memperkenalkan sejarah perjuangan Melayu kepada masyarakat luas. Kegiatan budaya seperti pagelaran silat, pertunjukan seni tradisional, hingga napak tilas sejarah dapat terus dikembangkan sebagai daya tarik budaya daerah.
Menjadikan Pulau Paku sebagai cagar budaya bukan hanya tentang menjaga tempat bersejarah, tetapi juga menjaga jati diri dan warisan leluhur Melayu agar tetap hidup di tengah perkembangan modernisasi. Dengan demikian, generasi mendatang masih dapat mengenal, mempelajari, dan merasakan nilai perjuangan yang pernah tumbuh di Pulau Paku.
Sementara itu Gubernur Kepulauan Riu yang diwakili Sekda Misni, menyampaikan atas nama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, perguruan silat, seniman budaya, dan masyarakat yang telah berperan dalam terselenggaranya kegiatan ini. Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan seni bela diri, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang kembali sejarah perjuangan Melayu yang pernah terukir di Pulau Paku.
“Pulau Paku merupakan salah satu saksi sejarah penting di wilayah Kepulauan Riau. Di kawasan inilah semangat perjuangan, keberanian, dan persatuan masyarakat Melayu pernah tumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa lampau. Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk kembali menelusuri jejak sejarah tersebut sekaligus memperkuat rasa cinta terhadap budaya dan jati diri Melayu” ungkap Misni.
Seni silat bukan hanya tentang ketangkasan gerak dan kemampuan bela diri. Di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur seperti disiplin, penghormatan, keberanian, persaudaraan, dan semangat menjaga marwah budaya bangsa. Oleh sebab itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk terus dilestarikan, terutama sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendukung penuh berbagai kegiatan pelestarian budaya yang mampu mengangkat nilai sejarah daerah serta memperkuat identitas Melayu di tengah perkembangan zaman. Kami berharap Pagelaran Seni Silat Nusantara ini dapat menjadi agenda budaya yang terus berkembang dan menjadi daya tarik wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau.(red)

