Mengerikan! KM Putra Buluh Terbelah Dua Ditabrak Kapal Kargo, 4 Nelayan Hilang di Perairan Bintan

Kapal kayu nelayan KM Putra Buluh terbelah menjadi dua setelah ditabrak kapal kargo pada Sabtu (8/8/2026) dini hari.
BINTAN – Kecelakaan laut mengerikan terjadi di perairan sekitar Pulau Pengikik, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kapal kayu nelayan KM Putra Buluh terbelah menjadi dua setelah ditabrak kapal kargo pada Sabtu (8/8/2026) dini hari.
Dari lima orang yang berada di atas kapal, hanya satu nelayan yang berhasil menyelamatkan diri. Sementara empat lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tanjungpinang, Fazzli, menyampaikan perkembangan operasi pencarian tersebut di Tanjungpinang, Senin (10/8/2026) malam.
Menurut Fazzli, laporan awal diterima Kantor SAR Tanjungpinang dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepri melalui Communication Center (Com Center) SAR Tanjungpinang.
Berangkat Memancing, Berakhir Jadi Tragedi
Peristiwa nahas tersebut bermula pada Senin (3/8/2026) pagi. Sekitar pukul 07.00 WIB, KM Putra Buluh berangkat dari Tanjung Pandan, Pulau Belitung, menuju perairan Pulau Pengikik.
Lima nelayan berada di atas kapal kayu tersebut dengan tujuan melakukan aktivitas memancing.
Setibanya di lokasi, mereka kemudian melakukan aktivitas di sekitar perairan tersebut selama beberapa hari, mulai Selasa (4/8/2026) hingga Jumat (7/8/2026).
Namun, suasana tenang di tengah laut berubah menjadi petaka ketika malam berganti dini hari.
Sekitar pukul 02.00 WIB pada Sabtu (8/8/2026), KM Putra Buluh dihantam sebuah kapal kargo yang sedang berlayar menuju Kalimantan.
Benturan keras tersebut menyebabkan kapal nelayan mengalami kerusakan parah hingga terbelah menjadi dua bagian.
“Akibat kejadian ini, KM Putra Buluh mengalami kerusakan berat hingga terbelah menjadi dua bagian,” ungkap Fazzli.
Melompat ke Laut, Bertahan dengan Tutup Fiber
Di tengah kepanikan dan kondisi kapal yang hancur, salah seorang awak bernama Khairul (30) berhasil menyelamatkan diri.
Khairul nekat melompat ke laut dan menggunakan tutup fiber kapal sebagai alat bantu apung untuk bertahan menghadapi gelombang.
Beruntung, perjuangannya bertahan di tengah laut berakhir setelah dirinya ditemukan dan dievakuasi oleh kapal KM Lima Saudara Kandung.
Namun, empat rekannya hingga kini belum ditemukan.
Keempat nelayan yang masih dinyatakan hilang tersebut yakni:
Samsir Arwan (27)
Andi Syamsu (53)
Muhammad Irfan (28)
Agustono (28)
Hingga Senin (10/8/2026) malam, keberadaan keempat nelayan tersebut masih belum diketahui.
Tim SAR Perluas Koordinasi
Kantor SAR Tanjungpinang langsung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung proses pencarian.
Sejumlah unsur yang dilibatkan antara lain SROP Tanjungpinang, KSOP Kelas II Tanjungpinang, HNSI Kepri, Kantor SAR Pangkalpinang, serta pihak pemilik kapal.
Koordinasi juga dilakukan dengan Kantor SAR Pontianak. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus laut ke wilayah lain sekaligus meminta dukungan unsur Kapal Negara (KN) SAR dalam operasi pencarian.
“Kami terus melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap perkembangan informasi guna mendukung upaya pencarian terhadap empat korban yang masih dinyatakan hilang,” tegas Fazzli.
Tim SAR bersama unsur terkait masih berupaya menemukan keempat nelayan yang hilang.
Operasi pencarian terus dilakukan dengan harapan keempat korban dapat segera ditemukan, sekaligus memberikan kepastian kepada keluarga yang hingga kini masih menunggu kabar di tengah kecemasan.
(Red)

