686 Bencana Terjadi di Kepri, Satlinmas Didorong Perkuat Kesiapsiagaan

BINTAN, (kepriraya.com) – Ratusan bencana dan insiden yang terjadi di Kepulauan Riau (Kepri) menjadi alarm serius bagi semua pihak, termasuk Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Kepri, Hardin Nafii, mengungkapkan sepanjang 2023 tercatat 686 bencana dan insiden di wilayah Kepri. Angka ini menunjukkan bahwa potensi ancaman bencana di daerah kepulauan tersebut masih cukup tinggi.
“Kesiapsiagaan bencana adalah upaya bersama untuk mengurangi dampak buruk serta memastikan masyarakat mampu merespons dan pulih dengan cepat jika terjadi bencana,” ujar Hardin saat memberikan materi di Awandari Resort, Toapaya, Kabupaten Bintan, Selasa (12/11).
Ia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir, jumlah kejadian tertinggi terjadi pada 2022 dengan 711 peristiwa. Sementara pada 2019 tercatat 672 kejadian, 2020 sebanyak 236, dan 2021 mencapai 459 peristiwa.
Menurut Hardin, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana. Upaya ini mencakup langkah-langkah sebelum bencana terjadi, dengan tujuan melindungi jiwa, mengurangi kerugian materi, serta meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
“Dengan kesiapsiagaan, kita bisa mengenali ancaman lebih dini, bahkan mencegah jika memungkinkan. Kalau tidak, setidaknya kita mampu mengurangi dampak dan mempercepat pemulihan,” jelasnya.

Dalam konteks itu, Satlinmas dinilai memiliki peran strategis. Selain menjaga ketertiban umum, mereka juga menjadi ujung tombak di masyarakat dalam membantu penanganan bencana. Karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman kebencanaan menjadi hal yang krusial.
Hardin memaparkan sejumlah potensi ancaman bencana di Kepri, mulai dari banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, hingga gelombang tinggi. Selain itu, wilayah pesisir juga rawan abrasi, disusul ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, hingga wabah penyakit dan kegagalan teknologi.
Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya kajian risiko bencana sebagai dasar perencanaan. Kajian ini mencakup tiga komponen utama, yakni bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity).
“Identifikasi bahaya dilakukan untuk mengetahui jenis dan karakteristik ancaman. Sementara kerentanan melihat seberapa besar dampak terhadap masyarakat. Sedangkan kapasitas menilai kemampuan daerah dalam menghadapi bencana,” paparnya.
Menurutnya, kapasitas ini mencakup berbagai aspek, mulai dari infrastruktur, sistem peringatan dini, hingga pengetahuan masyarakat dan kesiapan lembaga penanggulangan bencana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Koordinasi Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat yang dibuka Kasatpol PP dan Penanggulangan Kebakaran Kepri, Hendri Kurniadi. Turut hadir sebagai pemateri Roli Kuncoro dari Basarnas Kepri serta Masri Patera dari UPT Damkar Toapaya, BPBD Bintan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota Satlinmas semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana, sekaligus mampu menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat di wilayahnya. (ist)

