Di Balik Manisnya Durian, Ada Perjuangan Rahmad Menghidupi Keluarga dan Mengejar Mimpi

Rahmad Gunawan, pedagang durian yang membuka lapak di depan Calisto, Bintan Centre, Tanjungpinang. Senin, (15/6) f-Ist
TANJUNGPINANG, (kepriraya.com)– Aroma durian yang semerbak di sepanjang kawasan Bintan Centre setiap malam tak hanya mengundang para pecinta buah berduri itu. Di balik tumpukan durian yang tersusun rapi, tersimpan kisah perjuangan seorang kepala keluarga yang bertaruh modal, tenaga, dan harapan demi menghidupi keluarganya.
Adalah Rahmad Gunawan, pedagang durian yang sejak beberapa hari terakhir membuka lapak di depan Calisto, Bintan Centre, Tanjungpinang. Setiap sore menjelang malam, ia mulai menata dagangannya dan melayani pembeli hingga tengah malam.
Bagi sebagian orang, berjualan durian mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Rahmad, setiap buah yang terjual adalah hasil dari perjuangan panjang yang penuh risiko dan ketidakpastian.
“Tujuan utama saya bukan hanya mencari untung, tetapi bagaimana keluarga bisa hidup lebih baik dan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Senin (15/6/2026).
Modal Jutaan, Untung Tak Selalu Menjanjikan
Untuk membuka lapak durian, Rahmad harus menyiapkan modal hingga sekitar Rp4 juta. Durian yang dijual didatangkan dari kawasan Tembeling dan Bibit Buyu, dua daerah yang dikenal sebagai penghasil durian lokal berkualitas.
Harga yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp120 ribu per buah. Bahkan bagi pembeli yang ingin berburu durian dengan harga terjangkau, tersedia paket lima buah hanya Rp80 ribu.
Meski terlihat menjanjikan, keuntungan yang diperoleh tidak selalu besar. Saat kondisi pasar sedang ramai, keuntungan tertinggi yang bisa diperoleh Rahmad berkisar Rp500 ribu per hari.
Namun di balik potensi keuntungan itu, terdapat risiko yang tak sedikit.
Pernah Rugi Puluhan Juta Rupiah
Rahmad mengaku pernah mengalami kerugian hingga Rp25 juta selama menjalani usaha durian. Kerugian tersebut terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari kondisi buah yang pecah, kualitas isi yang tidak sesuai harapan, hingga faktor cuaca yang memengaruhi daya beli masyarakat.
“Kalau durian pecah atau retak, biasanya sulit terjual. Itu yang sering menjadi sumber kerugian terbesar bagi pedagang,” katanya.
Dalam bisnis durian, tidak semua buah yang tampak bagus dari luar menjamin kualitas di dalamnya. Karena itu, pedagang harus siap menanggung risiko ketika buah yang dibeli dari pemasok ternyata tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Persaingan Keras di Lapangan
Tak hanya menghadapi risiko kerugian, Rahmad juga harus berhadapan dengan kerasnya persaingan usaha.
Ia mengaku pernah mengalami pengalaman pahit ketika harus meninggalkan lokasi berjualan akibat konflik dengan pihak tertentu. Bahkan, menurutnya, tidak jarang terjadi praktik persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh sesama pedagang.
“Pernah diusir dari lokasi dan pernah juga menghadapi pedagang yang mencoba menjatuhkan usaha pedagang lain. Itu bagian dari risiko yang harus dihadapi,” tuturnya.
Meski demikian, Rahmad memilih tetap fokus menjaga kualitas dan pelayanan
kepada pelanggan. Hingga kini, ia bersyukur belum pernah menerima komplain serius dari pembeli terkait kualitas durian yang dijualnya.
Durian Tak Laku Bukan Berarti Sampah
Kreativitas menjadi kunci agar usaha tetap bertahan. Durian yang tidak habis terjual tidak langsung dibuang begitu saja.
Rahmad mengolah buah tersebut menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti lempuk durian, tempoyak, hingga bubur durian. Langkah ini dilakukan untuk menekan kerugian sekaligus menambah sumber pendapatan.
“Kalau tidak habis terjual, kami olah lagi supaya tetap ada nilai jualnya,” ujarnya.
Menopang Ekonomi dengan Banyak Usaha
Selain berjualan durian, Rahmad juga menjalankan usaha budidaya jamur tiram dan laundry rumahan. Diversifikasi usaha tersebut menjadi strategi untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga ketika penjualan durian sedang lesu.
Baginya, mengandalkan satu jenis usaha saja terlalu berisiko di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah.
Mimpi Membangun Kafe Durian
Di balik kesibukannya sebagai pedagang kaki lima, Rahmad menyimpan mimpi besar yang ingin diwujudkan suatu hari nanti.
Ia bercita-cita memiliki kafe khusus durian yang menyajikan berbagai olahan berbahan dasar durian, mulai dari minuman, makanan penutup, hingga kuliner khas berbasis buah favorit masyarakat tersebut.
Mimpi itu menjadi motivasi yang membuatnya terus bertahan, meski harus menghadapi persaingan ketat dan berbagai tantangan usaha.
Perjalanan Rahmad menjadi potret nyata perjuangan pelaku usaha kecil yang setiap hari bekerja tanpa mengenal lelah. Di balik aroma durian yang memenuhi udara malam Tanjungpinang, ada cerita tentang kerja keras, keberanian mengambil risiko, dan harapan seorang ayah yang ingin memberikan masa depan lebih baik bagi keluarganya.
Bagi Rahmad, setiap durian yang terjual bukan sekadar transaksi, melainkan langkah kecil menuju mimpi besar yang terus ia perjuangkan. (Pul)

