Jerebu Selimuti Batam, Netizen Pertanyakan Sekolah Tatap Muka untuk Anak SD-SMP-TK

indeks kualitas udara (AQI) Batam tercatat berada di angka 85 atau dalam kategori “sedang” (moderate).data pemantauan IQAir pada Selasa (15/9/2026) siang,
BATAM, (kepriraya.com) — Kabut asap atau jerebu yang masih menyelimuti Kota Batam memicu keresahan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut bahkan menyeret kebijakan pembelajaran sekolah ke ruang perdebatan media sosial.
Sejumlah warganet mempertanyakan mengapa siswa SD, SMP hingga TK masih menjalani pembelajaran tatap muka, sementara siswa SMA dan SMK disebut mulai menerapkan pembelajaran daring akibat kondisi udara.
Perdebatan itu salah satunya muncul di Threads. Akun @Arradtwig mempertanyakan kebijakan tersebut dengan nada kecewa.
“Udah tahu jerebu teruk ni budak-budak sekolah Batam nih masih masuk sekolah lagi??? Tak daring kah???” tulisnya.
Komentar lain datang dari akun @Chiepeceq. Ia menyoroti perbedaan kebijakan antara jenjang pendidikan menengah atas dengan jenjang SD hingga TK.
“Di Batam mulai hari ini anak SMA SMK daring karena kabut asap. Tapi anak SMP SD TK tetap masuk. Apa beda cara bernafas mereka ya… apa mereka bernapas pakai insang ya?” tulisnya.
Keluhan serupa juga bermunculan di Instagram. Akun @payybernadeth secara singkat meminta agar sekolah diliburkan sementara.
“Sekolah liburkan saja,” tulisnya.
Sementara akun @rayhanizzudin0406 mengaku kondisi udara mulai mengganggu kesehatan. Ia menyebut batuk dan sesak napas mulai dirasakan.
“Tolong liburkan anak sekolah.. Udara di Batam sudah sangat mengganggu.. Batuk dan sesak napas sudah mulai dirasakan,” tulisnya.
Kekhawatiran juga diarahkan kepada anak-anak yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Akun @fmawar.r01 meminta Dinas Pendidikan mempertimbangkan dampak kualitas udara terhadap kesehatan peserta didik.
“Semoga Dinas Pendidikan memikirkan dampak dari hal ini pada anak-anak, sebaiknya anak-anak diliburkan dulu saja, kasian anak-anak yang punya asma bakal lebih bahaya lagi,” tulisnya.
Desakan tersebut pada dasarnya bermuara pada satu hal, yakni perlindungan kesehatan anak di tengah kondisi udara yang dinilai mengkhawatirkan.
Warganet mendorong agar pembelajaran daring diberlakukan lebih luas, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang dianggap rentan terhadap paparan polusi udara.
Di sisi lain, berdasarkan data pemantauan IQAir pada Selasa (15/9/2026) siang, indeks kualitas udara (AQI) Batam tercatat berada di angka 85 atau dalam kategori “sedang” (moderate).
Meski berada dalam kategori sedang, kondisi udara tetap menjadi perhatian, terutama bagi kelompok sensitif. Kabut tipis juga masih tampak menyelimuti sejumlah kawasan perkotaan Batam.
Masyarakat pun diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan atau riwayat penyakit pernapasan.
Perdebatan di media sosial kini menunggu respons dan langkah pemerintah daerah terkait keberlanjutan pembelajaran tatap muka bagi siswa SD, SMP dan TK di tengah kondisi jerebu yang masih terjadi. (ski)

