HUKRIMLINGGA

17 Hari Jalur Laut Lingga Terkendala, Warga Sebut Ekonomi Lumpuh dan Pasien Tertahan

Tampak warga di Kabupaten Lingga terkait terganggunya transportasi laut semakin mengemuka, dengan memajang spanduk. Rabu, (16/9) f-Ist

LINGGA, (Kepriraya.com)– Keluhan warga di Kabupaten Lingga terkait terganggunya transportasi laut semakin mengemuka. Warga menyebut kondisi tersebut telah berlangsung selama 17 hari dan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, distribusi kebutuhan pokok hingga roda perekonomian antarpulau.

Sebagai daerah kepulauan yang sebagian besar mobilitas masyarakatnya bergantung pada transportasi laut, kepastian jadwal pelayaran menjadi kebutuhan penting. Namun, warga mengeluhkan kapal yang disebut berulang kali batal berlayar serta jadwal keberangkatan yang berubah-ubah.

“Sudah 17 hari kami terlantar. Kapal batal berlayar terus-menerus, jadwal berubah tidak menentu. Kami tidak tahu kapan bisa berangkat atau pulang,” keluh warga.

Dampak kondisi tersebut, menurut warga, tidak hanya dirasakan oleh penumpang. Hasil laut, hasil kebun dan barang dagangan disebut menumpuk di sejumlah dermaga karena tidak dapat segera dikirim ke daerah tujuan.

Kondisi itu dikhawatirkan menimbulkan kerugian semakin besar bagi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari perdagangan dan hasil produksi antarpulau.

Di sisi lain, warga juga mengeluhkan sulitnya distribusi kebutuhan pokok. Terbatasnya arus barang disebut ikut mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehingga semakin membebani masyarakat.

“Barang kebutuhan pokok susah masuk, harga semakin tinggi. Dompet warga makin tipis,” ujar warga.

Keluhan juga menyasar dampak terhadap pelayanan sosial. Warga menyebut pelajar kesulitan menuju sekolah, pekerja tertahan untuk berangkat, sementara masyarakat yang membutuhkan pengobatan di luar pulau juga menghadapi kendala perjalanan.

Bagi masyarakat Lingga, transportasi laut bukan sekadar sarana bepergian, tetapi menjadi penghubung utama antarpulau untuk pendidikan, pekerjaan, perdagangan, pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Jalur laut di sini bukan kemewahan, tapi nyawa kami,” tegas warga.

Karena itu, warga meminta pihak berwenang segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Selain memastikan kapal kembali beroperasi secara teratur, warga juga meminta perbaikan terhadap dermaga yang mengalami kerusakan.

Mereka juga mendorong adanya penambahan lintasan apabila kapasitas yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, serta meminta informasi yang terbuka apabila terjadi perubahan atau pembatalan pelayaran.

Warga berharap ada kepastian mengenai jadwal keberangkatan dan kepulangan sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa harus menghadapi ketidakpastian setiap hari.

“Sudah 17 hari kami menderita dan terlantar. Jangan sampai kami terisolasi dan ditinggalkan begitu saja,” tegas warga.

Keluhan tersebut sekaligus menjadi desakan kepada pihak terkait untuk memberikan penjelasan mengenai penyebab terganggunya pelayaran, langkah penanganan yang telah dilakukan, serta kepastian pemulihan layanan transportasi laut di Lingga. (Jki)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *