Bedah Buku Menjaga Nurani, KJK Didorong Jadi Penggerak Budaya Literasi di Kepri

Bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman karya wartawan senior Ridarman Bay yang digelar di Gedung KJK, Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026). f-Ist
TANJUNGPINANG, (Kepriraya.com) – Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) didorong tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya para jurnalis, tetapi juga mengambil peran strategis sebagai penggerak budaya literasi di Kepulauan Riau.
Dorongan itu mengemuka dalam kegiatan bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman karya wartawan senior Ridarman Bay yang digelar di Gedung KJK, Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026).
Bedah buku yang berlangsung pukul 09.15 hingga 12.00 WIB tersebut menghadirkan Dr. Darson sebagai pembicara. Diskusi berkembang tidak sekadar membahas isi buku, tetapi juga menyentuh persoalan jurnalistik, perubahan perilaku masyarakat di era digital, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga pentingnya mempertahankan idealisme dan nurani dalam kehidupan publik.
Dr. Darson menilai Menjaga Nurani merupakan karya yang lahir dari kegelisahan penulis melihat perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Buku setebal 174 halaman tersebut terdiri dari enam bab yang memuat kumpulan opini Ridarman Bay. Berbagai pengalaman penulis saat mengikuti kegiatan organisasi, seminar maupun menyaksikan fenomena sosial kemudian dituangkan menjadi gagasan dan refleksi dalam bentuk tulisan.
Menurut Darson, kekuatan buku tersebut terletak pada keberanian penulis menuangkan kegelisahan terhadap berbagai perubahan sosial, termasuk ketika teknologi semakin masuk ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
“Nurani secara etimologi merupakan cahaya dalam hati. Perkembangan teknologi di era disrupsi telah membawa perubahan masif dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan tumpahan pikiran dan kegelisahan penulis terhadap fenomena yang terjadi,” ujar Darson dalam pokok pembahasannya.
Ia menilai derasnya arus informasi, termasuk melalui media sosial dan teknologi AI, membuat kemampuan berpikir kritis serta kepekaan sosial menjadi semakin penting.
Karena itu, Darson berharap KJK dapat mengambil posisi lebih besar dalam membangun tradisi membaca dan menulis di Kepri. Menurutnya, komunitas jurnalis memiliki modal yang kuat karena sehari-hari bersentuhan dengan informasi, fakta, persoalan masyarakat dan berbagai dinamika daerah.
Ia juga menyebut pemerintah melalui Dinas Pemuda dan Olahraga siap membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan budaya literasi di daerah.
Dorongan tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya kegaduhan di ruang publik maupun dunia maya. Menurut Darson, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan manusia dalam mengelola hati nurani dan moralitas sosial.
Dalam konteks itu, Menjaga Nurani dinilai tidak hanya menjadi kumpulan opini, tetapi juga dapat menjadi pelengkap wacana sosial, kebijakan dan spiritualitas pribadi dalam menjaga kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Diskusi kemudian berkembang melalui tanggapan sejumlah peserta.
Dr. Bismar mengutip pemikiran filsuf René Descartes, cogito ergo sum, atau “saya berpikir maka saya ada”. Menurutnya, menulis merupakan salah satu cara membuat gagasan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menekankan pentingnya idealisme dan militansi seorang jurnalis. Menurutnya, karya jurnalistik maupun tulisan opini harus tetap memiliki tanggung jawab kepada publik.
Bismar juga menilai isu-isu strategis di Kepri perlu terus dibedah melalui tulisan agar tidak hilang begitu saja dari ruang publik. Ia berharap karya-karya semacam Menjaga Nurani terus dikembangkan dan memiliki ISBN sehingga dapat menjadi bagian dari dokumentasi intelektual daerah.
Sementara itu, Komisioner KPU Kepri, Priyo, mengatakan tradisi menulis sebenarnya dapat dimulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan seseorang.
Ia mengapresiasi gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut, namun menyarankan karya serupa ke depan dapat dikelompokkan berdasarkan tema sehingga pembahasannya lebih fokus dan mudah dikembangkan menjadi karya-karya berikutnya.
Dalam diskusi tersebut juga muncul pembahasan mengenai tantangan penyebaran informasi radikalisme dan ekstremisme di Kepri serta pentingnya literasi masyarakat dalam menyikapi berbagai informasi.
Wartawan senior sekaligus Manajer Produksi Media, Sigit, turut memberikan apresiasi terhadap KJK sebagai ruang berkumpul dan bertukar gagasan bagi insan media.
Ia mengibaratkan Menjaga Nurani seperti makanan gado-gado karena berisi beragam tema dan pemikiran yang berpadu dalam satu buku.
Namun, menurut Sigit, keberagaman tema tersebut sekaligus menggambarkan tantangan dunia media saat ini.
Ia menyoroti perubahan posisi media dalam kehidupan demokrasi. Jika sebelumnya media dikenal sebagai salah satu pilar penting demokrasi, perkembangan zaman membuat batas antara media, birokrasi dan kepentingan komunikasi pemerintah semakin kompleks.
Di sisi lain, Sigit menilai perkembangan AI tidak mungkin dihindari.
“Teknologi AI merupakan sebuah keniscayaan. Tantangannya adalah bagaimana memasarkan ide yang ada di dalam buku sehingga dapat memberikan nilai, termasuk dengan memanfaatkan teknologi AI,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai tulisan-tulisan dalam buku tersebut masih dapat dikembangkan lebih jauh dengan eksplorasi gagasan yang lebih berani dan luas.
Aktivis pemerhati kebijakan, Mag Say Say, turut mendorong penguatan budaya menulis. Ia mencontohkan kebiasaan menulis buku harian yang berkembang di Jepang sebagai salah satu praktik sederhana yang dapat membangun tradisi literasi sejak dari kehidupan sehari-hari.
Ketua Komisi Informasi Publik (KIP), Arison, melihat buku tersebut juga memiliki nilai dari sisi manajemen pemasaran. Menurutnya, karya tulis dapat menjadi bagian dari identitas dan personal branding seorang penulis.
Sementara Ketua Forhati, Fitri, yang merupakan praktisi psikologi, menilai buku Menjaga Nurani mampu menyentuh sisi emosional pembaca.
Menurutnya, keberagaman tema tidak selalu menjadi kelemahan. Ketidakfokusan tersebut justru dapat memperlihatkan sisi manusiawi sebuah karya sekaligus menjadi bagian dari karakter dan personal branding penulis.
Ia juga menyinggung konsep reduksi kognitif serta pentingnya soft skill yang tidak mudah digantikan oleh teknologi AI.
Rangkaian diskusi akhirnya mengerucut pada satu pesan sederhana: budaya menulis tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Tulisan dapat lahir dari pengalaman sehari-hari, kegelisahan pribadi, lingkungan sekitar maupun persoalan yang ditemui dalam menjalankan profesi.
“Mulailah dari kecil-kecil. Menulis sesuatu yang gampang, tetapi tidak semua dapat melakukannya,” menjadi salah satu pesan penutup dalam kegiatan tersebut.
Bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman pada akhirnya tidak hanya menjadi forum untuk membicarakan sebuah karya.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mengenai masa depan jurnalistik, posisi media dalam demokrasi, tantangan AI serta pentingnya menjaga moral dan nurani manusia di tengah derasnya arus informasi.
Bagi KJK, forum semacam ini sekaligus membuka ruang yang lebih luas untuk memperkuat peran komunitas jurnalis sebagai bagian dari gerakan literasi di Kepulauan Riau. (Ako)

