Festival Kopi Merdeka 2026 Hidupkan Kota Lama, UMKM dan Pariwisata Kepri

TANJUNGPINANG, (kepriraya.com) — Aroma kopi, geliat UMKM, pertunjukan seni budaya hingga hiburan musik menghidupkan kawasan Jalan Merdeka, Tanjungpinang, selama pelaksanaan Festival Kopi Merdeka 2026.
Digelar 20–24 Agustus 2026, festival yang masuk dalam Calendar of Event Pariwisata Kepri 2026 ini tidak sekadar menjadi ajang menikmati kopi. Kegiatan tersebut berkembang menjadi ruang pertemuan antara pelaku UMKM, ekonomi kreatif, seniman, masyarakat dan wisatawan dalam satu kawasan.
Sejak hari pertama, kawasan Jalan Merdeka dipadati masyarakat yang datang menikmati aneka sajian kopi dan kuliner sekaligus berburu berbagai produk UMKM.
Festival Kopi Merdeka 2026 digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata dengan menggandeng berbagai pihak. Konsepnya memadukan promosi kopi, UMKM, seni budaya, ekonomi kreatif dan hiburan untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih beragam.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, mengatakan sekitar 220 stan bazar ambil bagian dalam festival tahun ini.
Jumlah tersebut sengaja dibatasi agar kawasan festival tetap tertata dan pengunjung dapat menikmati kegiatan dengan nyaman.
“Peserta stan bazar sudah menembus angka 220 stan bazar. Peserta yang mengikuti event Kopi Merdeka kita batasi agar event tertata rapi,” kata Hasan.

Penataan tidak hanya dilakukan terhadap stan, tetapi juga area parkir. Langkah tersebut dinilai penting mengingat Jalan Merdeka merupakan kawasan publik yang tetap menjadi jalur aktivitas masyarakat.
“Alhamdulillah, parkir lebih bagus. Kenyamanan pengendara maupun pengunjung sudah lebih baik, apalagi di sini merupakan kawasan publik,” ujarnya.
UMKM Dapat Panggung, Transaksi Meningkat
Kehadiran ratusan stan menjadikan Festival Kopi Merdeka sebagai etalase bagi produk lokal.
Pengunjung dapat menemukan berbagai jenis kopi tradisional dan modern, kuliner khas, makanan olahan hingga produk ekonomi kreatif masyarakat.
Bagi pelaku UMKM, festival menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen sekaligus memperluas pasar.
Dinas Pariwisata Kepri juga mendorong pelaku usaha mengikuti perkembangan transaksi digital. Salah satunya melalui pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“Berbelanja apa pun sudah memakai QRIS. Mudah-mudahan terbantu masyarakat Kota Tanjungpinang ini,” ujar Hasan.
Penggunaan pembayaran digital dinilai semakin penting seiring perubahan pola belanja masyarakat. Dengan transaksi yang lebih praktis, UMKM diharapkan semakin siap masuk ke ekosistem ekonomi digital.
Lebih jauh, pemerintah berharap Festival Kopi Merdeka tidak hanya menarik masyarakat Tanjungpinang dan Pulau Bintan, tetapi juga mampu menjadi magnet bagi wisatawan dari luar daerah.
Kopi Dipadukan dengan Kekayaan Budaya
Daya tarik festival tidak berhenti pada kopi dan kuliner. Berbagai pertunjukan seni dan budaya turut mengisi rangkaian kegiatan.
Pengunjung disuguhkan Coffee Art Performance dan Traditional Coffee Show yang menggabungkan kreativitas penyajian kopi dengan tradisi masyarakat.
Semarak festival semakin terasa dengan hadirnya Barongsai, Liong, karnaval budaya, fashion show serta pertunjukan empat budaya dalam satu warna yang merepresentasikan Melayu, Tionghoa, Bugis dan Minangkabau.
Seni tradisi Mak Yong juga menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan.
Perpaduan tersebut membuat kopi tidak hanya hadir sebagai minuman, tetapi menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah, budaya, kreativitas dan kehidupan masyarakat Tanjungpinang kepada pengunjung.
Musik Jadi Magnet Pengunjung
Hiburan musik menjadi salah satu magnet lain yang membuat kawasan Jalan Merdeka semakin ramai.
Sejumlah penyanyi dan musisi tampil dalam rangkaian festival, di antaranya Virgoun, Fauzana dan Aprilian.
Penampilan Virgoun pada rangkaian awal festival mendapat perhatian besar masyarakat. Sementara Fauzana dan Aprilian tampil dalam agenda malam puncak bertajuk “Malam Puncak Riuh” pada 23 Agustus 2026.
Malam puncak tersebut turut dihadiri Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Kehadiran musisi populer menjadi strategi untuk memperluas jangkauan festival, terutama kepada generasi muda, sekaligus membawa mereka bersentuhan langsung dengan produk UMKM dan kekayaan budaya lokal.
Ansar: Kebiasaan Minum Kopi Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menilai kebiasaan masyarakat menikmati kopi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bagian dari strategi pariwisata berbasis kegiatan.
Menurutnya, aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar apabila dikelola secara kreatif dan terintegrasi dengan sektor lain.
“Kebiasaan sederhana masyarakat bisa menjadi kekuatan ekonomi besar jika kita mengelolanya secara kreatif,” ujar Ansar di sela Festival Kopi Merdeka 2026, Minggu (23/8/2026) malam.
Ansar juga menyerahkan bantuan kepada pelaku UMKM serta hadiah kepada para pemenang lomba dalam rangkaian festival tersebut.
Pemerintah Kepri, kata dia, terus mendorong event daerah agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan dampak terhadap pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Bukan Sekadar Hiburan
Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura menegaskan festival seperti Kopi Merdeka memiliki manfaat yang lebih luas dibanding sekadar hiburan.
Menurutnya, ketika UMKM, wisatawan dan aktivitas transaksi dipertemukan dalam satu kawasan, maka terjadi pergerakan ekonomi yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Festival ini bukan hanya hiburan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi. UMKM kita diberi panggung, wisatawan datang, dan transaksi terjadi. Inilah kekuatan ekonomi berbasis masyarakat,” ujar Nyanyang, Jumat (21/8/2026).
Pelaksanaan festival juga melibatkan Pemerintah Kota Tanjungpinang serta RRI Tanjungpinang dalam memperluas promosi kegiatan dan produk lokal.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai pemerintah, pelaku usaha, komunitas, seniman hingga masyarakat.
Menghidupkan Kembali Kawasan Kota Lama
Pemilihan Jalan Merdeka sebagai lokasi festival memiliki arti tersendiri. Kawasan tersebut merupakan bagian dari ruang publik dan kawasan kota lama Tanjungpinang yang memiliki nilai sejarah.
Selama lima hari, kawasan yang sehari-hari menjadi ruang aktivitas masyarakat itu berubah menjadi pusat kegiatan ekonomi, budaya dan hiburan.
Ratusan pelaku usaha mendapat ruang untuk berjualan. Seniman mendapat panggung. Masyarakat memperoleh ruang rekreasi, sementara wisatawan mendapatkan pengalaman menikmati Tanjungpinang melalui kopi, kuliner dan budaya.
Di tengah ramainya kegiatan, aspek kebersihan dan ketertiban juga menjadi perhatian. Dinas Pariwisata Kepri mengimbau pengunjung membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Aspek keamanan turut mendapat dukungan dari jajaran kepolisian.
“Kita berterima kasih kepada Polresta Tanjungpinang dan Polda Kepri yang telah memberikan izin dalam kegiatan keramaian ini. Masyarakat Tanjungpinang sangat tertib,” kata Hasan.
Festival Kopi Merdeka 2026 resmi ditutup pada 24 Agustus setelah menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan kopi, UMKM, seni budaya dan hiburan.
Bagi Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri, festival ini sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali kawasan kota lama melalui kegiatan pariwisata berbasis masyarakat.
Kopi menjadi pintu masuk. Namun di balik secangkir kopi, ada UMKM yang tumbuh, budaya yang diperkenalkan, wisatawan yang datang, transaksi yang bergerak dan ruang kota yang kembali hidup.
(BPras)

