BREAKING NEWSTANJUNGPINANG

Tujuh Doktor Berkumpul, Bedah Buku Wartawan Senior Ridarman Bay Jadi Sorotan

Suasana rapat sebuah agenda bedah buku di Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026). f-Ist

TANJUNGPINANG, (Kepriraya.com) — Ada pemandangan tak biasa dalam sebuah agenda bedah buku di Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026). Bukan hanya karena buku yang dibahas merupakan karya seorang wartawan senior, tetapi forum tersebut mempertemukan tujuh doktor dari berbagai disiplin dan profesi.

Bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman karya wartawan senior Kepulauan Riau (Kepri), Ridarman Bay, itu diselenggarakan Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) di Komplek Ruko Central Kencana No. 20, Tanjungpinang.

Menariknya, forum yang digagas organisasi pers tersebut justru diwarnai kehadiran para akademisi dan penyelenggara pemilu bergelar doktor. Kondisi ini terbilang jarang terjadi dalam kegiatan literasi yang diselenggarakan organisasi kewartawanan di Tanjungpinang.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov Kepri, Dr. Darson, M.Si, tampil sebagai Pembedah 1. Sementara pengacara muda Dr. Ahmad Yani, S.H., M.H., dipercaya menjadi moderator.

Lima doktor lainnya yang hadir dan turut memberikan pandangan yakni Dr. Rosnawati dan Dr. Maryamah, Komisioner Bawaslu Kepri; Dr. Bismar Arianto, M.Si, akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH); Dr. Yusuf Mahidin, Ketua Bawaslu Kota Tanjungpinang; serta Dr. Saripuddin, Wakil Rektor IAI Miftahul Ulum Tanjungpinang.

Kehadiran mereka membuat pembahasan buku setebal 174 halaman itu berkembang menjadi ruang bertukar gagasan mengenai literasi, jurnalistik, moral, intelektualitas hingga tantangan kehidupan di tengah perubahan zaman.

Darson dalam paparannya menilai wartawan tidak cukup hanya menghasilkan berita setiap hari. Menurutnya, jurnalis juga perlu meninggalkan karya yang dapat menjadi rekam jejak pemikiran dan perjalanan intelektualnya.

Ia bahkan memberikan dorongan sederhana namun tegas kepada para wartawan agar mulai membukukan karya.

“Wartawan itu mesti punya buku. Karena itu menulislah,” ujar Darson.

Pernyataan tersebut mendapat penguatan dari Ketua Umum KJK, Ady Indra Pawennari, yang juga bertindak sebagai Pembedah 2.

Ady mengatakan, salah satu tujuan utama kegiatan tersebut adalah membangun budaya menulis di kalangan wartawan. Tidak berhenti pada pemberitaan, karya jurnalistik diharapkan dapat dikembangkan menjadi buku yang memiliki nilai dokumentasi dan intelektual.

KJK, lanjut Ady, juga membuka ruang bagi wartawan lain yang ingin menggelar bedah buku atas karya mereka.

“Tujuan bedah buku ini salah satunya supaya wartawan punya budaya menulis dan membukukan karyanya. Kami bersedia memfasilitasi kegiatan bedah buku karya wartawan lain,” kata Ady.

Sementara itu, Bismar Arianto melihat buku sebagai bentuk investasi intelektual yang nilainya tidak berhenti ketika buku selesai diterbitkan.

Ia mencontohkan karya bukunya sendiri yang kini tersimpan di perpustakaan Australia dan digunakan sebagai bahan referensi. Menurutnya, bukan tidak mungkin Menjaga Nurani juga akan menemukan pembacanya di masa mendatang.

“Saya yakin buku Menjaga Nurani ini pada masa depan juga akan diperhatikan orang,” ujarnya.

Selain tujuh doktor tersebut, kegiatan juga dihadiri Ketua Komisi Informasi (KI) Kepri Arison, Ketua KPID Kepri Ahmad Dani, pejabat eselon III Pemprov Kepri, aktivis, pemerhati literasi, serta perwakilan Taman Bacaan Masyarakat.

Bagi Ridarman Bay, perhatian dan kritik terhadap bukunya justru menjadi bagian penting dari proses kepenulisan.

Ia mengatakan bedah buku tersebut bukan sekadar seremoni peluncuran atau promosi karya, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada pembaca sekaligus upaya mendorong tradisi literasi di Kepri.

“Bedah buku ini juga untuk menunjukkan akuntabilitas saya sebagai penulis kepada pembaca, sekaligus mengembangkan tradisi literasi,” pungkas Ridarman.

(Amr)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *