BREAKING NEWSPOLITIKTANJUNGPINANG

Hulubalang LAM Kepri Resmi Dikukuhkan, Ansar: Penjaga Marwah Melayu di Tengah Tantangan Zaman

Kata sambutan Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad di Balai Adat Seri Indra Sakti, Taman Gurindam 12, Tanjungpinang, Senin (8/6/2026). f-Diskominfo

TANJUNGPINANG, (kepriraya.com) – Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau resmi mengukuhkan Hulubalang LAM Kepulauan Riau Masa Khidmat 2026–2027 dalam sebuah prosesi adat yang berlangsung khidmat di Balai Adat Seri Indra Sakti, Taman Gurindam 12, Tanjungpinang, Senin (8/6/2026).


Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua LAM Kepulauan Riau, Raja Al-Hafiz Raja Ismail, berdasarkan Surat Keputusan LAM Provinsi Kepulauan Riau Nomor 2/LAM KEPRI/IV/2026 tertanggal 9 Mei 2026.


Dalam prosesi tersebut, Dato’ Wira Setia Utama Endy Maulidi resmi dikukuhkan sebagai Panglima Besar Hulubalang LAM Kepulauan Riau. Pengukuhan ditandai dengan pemasangan atribut kebesaran adat Melayu berupa tanjak, keris, dan tongkat komando yang melambangkan amanah, tanggung jawab, serta komitmen menjaga marwah budaya Melayu di Bumi Segantang Lada.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, unsur Forkopimda Kepri, para kepala OPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jajaran pengurus LAM Kepulauan Riau.


Dalam sambutannya, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan bahwa Kepulauan Riau merupakan salah satu pusat peradaban Melayu yang memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan budaya Melayu di Nusantara.


Menurut Ansar, berdasarkan data kependudukan, masyarakat Melayu masih menjadi kelompok etnis terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dengan jumlah sekitar 652.929 jiwa atau hampir 30 persen dari total penduduk Kepri.


Namun di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, tantangan untuk menjaga identitas dan nilai-nilai budaya Melayu semakin besar.


“Lembaga Adat Melayu memiliki peran strategis dalam menggali, memelihara, membina, dan mengembangkan nilai-nilai adat serta budaya Melayu Kepulauan Riau sebagai upaya mewujudkan pepatah Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,” ujar Ansar.


Bukan Sekadar Simbol Keberanian


Gubernur Ansar menegaskan bahwa dalam tamadun Melayu, hulubalang bukan hanya dikenal sebagai sosok pemberani atau pengawal negeri. Lebih dari itu, hulubalang merupakan figur yang menjunjung tinggi amanah, menjaga kehormatan negeri, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.


“Hulubalang memiliki posisi penting sebagai lambang kesetiaan kepada negeri, keberanian menegakkan kebenaran, serta kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan antara adat, syariat, dan kehidupan sosial masyarakat,” katanya.


Ansar kemudian mengutip petuah Melayu yang sarat makna.


“Bukan hulubalang karena kerisnya, bukan pula karena kuat tangannya, tetapi hulubalang karena teguh amanahnya, lurus budinya, dan tinggi marwahnya.”
Menurutnya, petuah tersebut menggambarkan bahwa kekuatan seorang hulubalang tidak terletak pada simbol atau atribut yang dikenakan, melainkan pada integritas, akhlak, dan tanggung jawab moral yang diemban.


Hadapi Tantangan Zaman Modern


Ansar menilai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Jika dahulu hulubalang berhadapan dengan ancaman fisik terhadap negeri, kini ancaman yang muncul lebih kompleks dan menyentuh aspek sosial maupun budaya.


Ia menyoroti berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat, mulai dari lunturnya adab dan etika, menurunnya penghormatan kepada orang tua dan guru, maraknya fitnah serta ujaran kebencian di ruang digital, hingga berkurangnya kebanggaan generasi muda terhadap budaya Melayu.


Karena itu, Ansar berharap para hulubalang mampu hadir sebagai teladan sekaligus penjaga nilai-nilai luhur kemelayuan.


“Hulubalang harus tampil sebagai contoh dalam akhlak, tutur kata, perilaku, dan semangat pengabdian. Kehadiran hulubalang harus menjadi penuntun serta penguat identitas budaya Melayu di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” tegasnya.


Menjaga Warisan Peradaban Melayu
Gubernur Ansar juga mengingatkan bahwa Kepulauan Riau merupakan tanah kelahiran banyak ulama, sastrawan, cendekiawan, dan tokoh besar Melayu yang pengaruh pemikirannya masih dirasakan hingga kini, baik di Indonesia maupun dunia Melayu.


Menurutnya, warisan terbesar yang harus dijaga bukan hanya bangunan bersejarah atau benda-benda peninggalan masa lalu, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakat Melayu.


Oleh sebab itu, keberadaan Hulubalang LAM dinilai sangat penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat persatuan masyarakat, serta memastikan nilai-nilai adat tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Menutup sambutannya, Ansar menyampaikan ucapan tahniah kepada seluruh Hulubalang LAM Kepulauan Riau yang baru saja dikukuhkan.


“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan batin, melimpahkan kebijaksanaan dalam setiap langkah, serta menjadikan para hulubalang sebagai penjaga marwah adat dan kebanggaan masyarakat Melayu Kepulauan Riau,” tutupnya.


Pengukuhan Hulubalang LAM Kepulauan Riau ini menjadi momentum penting dalam memperkuat eksistensi adat Melayu di tengah perkembangan zaman, sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk menjaga identitas budaya yang telah menjadi akar dan jati diri masyarakat Kepulauan Riau. (r)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *