Pulasan: Si “Kembaran” Rambutan yang Membawa Nostalgia 30 Tahun
Oleh : Ady Indra Pawennari

Ady Indra Pawennari saat memetik buah pulasan
Bayangkan Anda memetik buah dari pohon di pekarangan, memakannya dengan nikmat selama tiga tahun berturut-turut, tetapi tidak pernah tahu apa namanya.
Pengalaman unik ini nyata terjadi. Sekilas, buah misterius ini tampak seperti rambutan. Namun, begitu menyentuh kulitnya dan mengunyah daging buahnya, ada perbedaan besar yang terasa.
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab hari ini melalui sebuah acara panen kecil-kecilan bersama para sahabat. Salah seorang sahabat, Sigit Rachmat, awalnya mengaku tak terlalu antusias saat diajak ikut memanen buah yang dikira rambutan ini.
Maklum, di kebunnya sendiri pun pohon rambutan tumbuh subur dan berbuah lebat setiap musim. Namun, begitu tiba di lokasi dan melihat wujud aslinya, raut wajahnya langsung berubah gembira.
“Ini bukan rambutan, ini buah Pulasan. Buah langka ini. Entah mimpi apa aku semalam, bisa ketemu buah ini!” serunya penuh semangat.
Setelah mengamati kulit dan mencicipinya, momen itu seketika berubah menjadi mesin waktu bagi Sigit. Ia berkisah bahwa saat masa kecilnya di Pekanbaru, Riau, ia sangat sering menyantap buah ini.
Namun, sejak pindah dan menetap di Tanjungpinang, ia tak pernah lagi menemukan pohon maupun buahnya. Hampir 30 tahun lamanya ia kehilangan jejak buah masa kecilnya itu, hingga akhirnya takdir mempertemukannya kembali di tanah Tanjungpinang hari ini.
Bagi masyarakat awam, Pulasan memang sering keliru dianggap sebagai rambutan. Padahal, keduanya adalah dua spesies yang sepenuhnya berbeda.
Agar tak salah kenal lagi, mari kita bedah perbedaan mencolok antara rambutan dan Pulasan.
- Perbedaan Warna dan Fisik Kulit
Perbedaan paling kasat mata terletak pada warna dan tekstur bagian luarnya. Rambutan Identik dengan warna merah cerah atau kuning saat matang. Kulitnya dipenuhi oleh rambut-rambut halus yang panjang, lebat, dan lentur.
Sedangkan Pulasan memiliki warna yang cenderung lebih gelap dan eksotis, mulai dari merah tua keunguan, merah marun, hingga merah gelap kehitaman. Kulitnya sama sekali tidak berambut, melainkan tebal, keras, dan dipenuhi tonjolan berbentuk duri tumpul.
- Tekstur dan Rasa Daging Buah
Saat mengupas dan menggigitnya, Pulasan memiliki kualitas rasa yang sering kali dianggap mengungguli rambutan. Beberapa varietas rambutan memiliki daging buah yang melekat erat pada bijinya (kurang ngelotok) dan menyisakan lapisan kayu biji saat dikunyah. Teksturnya juga cenderung sangat berair.
Sedangkan daging buah Pulasan jauh lebih mudah lepas dari bijinya. Teksturnya lebih padat, kenyal, agak kering, dengan rasa manis yang lebih pekat dan aroma yang khas.
- Cara Mengupas yang Unik
Nama “Pulasan” ternyata diambil dari teknik memakan buah ini. Jika kulit rambutan biasanya disobek menggunakan kuku atau digigit, tak demikian dengan Pulasan.
Untuk membuka buah Pulasan, Anda cukup memegang buah dengan kedua tangan lalu memulas (memuntir) kulitnya hingga terbelah dengan mudah.
Di Mana Pulasan Banyak Tumbuh di Indonesia?
Pulasan merupakan buah asli Asia Tenggara yang menyukai iklim tropis basah. Di Indonesia, pohon pulasan tumbuh subur di beberapa wilayah.
Seperti cerita masa kecil Sigit di Pekanbaru, buah ini dulunya cukup mudah ditemukan di daratan Sumatera. Sama halnya di Kalimantan, buah ini sering ditemukan sebagai tanaman pekarangan maupun tumbuh liar di dalam hutan pedalaman.
Di Jawa Barat, khususnya di daerah Bogor, buah ini dikenal dengan nama Kapulasan. Meskipun rasanya sangat lezat, Pulasan saat ini masih dikategorikan sebagai buah langka yang jarang dibudidayakan secara komersil.
Keberadaan pohon Pulasan yang bisa berbuah subur di Tanjungpinang ini adalah sebuah berkah langka.
Anda tak hanya berhasil merawat kekayaan plasma nutfah atau sumber daya genetik tumbuhan asli Indonesia yang mulai terkikis zaman, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali memori masa kecil seorang sahabat yang sempat hilang selama tiga dekade.

